Sunday, September 7, 2008

Identitas budaya kita

Tadi pagi aku lihat tayangan di tivi, tentang anak-anak daerah yang belajar kesenian. Mereka belajar tari dan gamelan. Seneng rasanya lihat masih ada anak-anak kecil jaman sekarang yang mau belajar kesenian seperti gitu. Melihat mereka, para generasi muda yang masih punya identitas budaya. 

Anak-anak dari dengan basic budaya Jawa jadi tahu apa itu gamelan, bagaimana memainkannya, dan kesenian apa yang menggunakan alat musik tersebut. Anak muda di Sumatera tahu bahwa mereka kaya dengan budaya melayu. Dari kesenian sastra, tari atau adat istiadat. Tapi, sedih jika aku menyadari bahwa itu hanya sebagian kecil saja.

Kini,anak-anak sudah seperti kehilangan identitas budayanya. Kehilangan akarnya. Mereka kini adalah manusia-manusia tanpa sejarah, tanpa budaya. Yang mereka tahu hanya Indonesia, Merah Putih, Pancasila atau siapa presiden RI sekarang. Kita pun tidak bisa bilang mereka nasionalis, cinta negeri sendiri, karena itu semua mereka tahu untuk dapatkan nilai baik di sekolah. 


Agar tidak dibilang keterlaluan saat mereka tidak tahu apa lagu kebangsaan Indonesia. Mereka hanya berasal dari Sunda, Jogja, Pontianak, Riau, Lampung, Jakarta, tanpa tahu apa yang ada di tanah kelahiran mereka. Karena mereka lahir di Jogja, besar di Lampung, dan belajar di Jakarta. Atau karena budaya mereka kini sudah digantikan oleh teknologi. Internet, laptop, iPod,Nintendo DS, XBox adalah bendera, budaya, dan identitas mereka. Bahwa lagu Umbrella-nya Rihanna adalah lagu yang ngetop daripada Cublak-cublak Suweng, dan Oh Baby-nya Cinta Laura itu lebih lucu daripada lagu Ondel-ondel.

Siapa yang harus dipersalahkan? Anak-anak, pemerintah, atau kita sekarang yang lagi nggosipin mereka? Yang pasti sekarang pemerintah lagi sibuk ngurusin padi Troy yang gagal panen, dan Agus Chondro yang terima suap, atau DPR yang lagi mau sosialisasi Pemilu ke luar negeri. Mungkin aku terlalu negatif ya, tapi apa pernah melihat, mendengar, atau sekedar gosip bahwa pemerintah sedang berkonsentrasi membangunkan kembali budaya daerah yang lama tidur. Bahwa pemerintah sedang menyusun promosi wisata daerah yang diikuti dengan peningkatan kualitas dan pendanaan yang cukup, dan pembangunan sumber daya yang baik. Bahwa pemerintah mengadakan kampanye yang terpadu, solid, dan menarik, untuk kembali mencintai budaya lokal, budaya Indonesia yang jumlahnya ribuan. Mungkin mereka terlalu sibuk kali ya, dengan berbagai urusan negara.

Aku jadi khawatir, bahkan dengan diriku sendiri. Budaya apa yang aku punya, yang aku pahami, yang aku cintai. Budaya Indonesia? Ya apa? Sadarilah, bahwa kita itu heterogen, tidak homogen. Bahwa kita berwarna tidak monochrome. Bahwa kita itu polyphonic bukan monophonic. 


Jadi budaya apa? Aku sangat terhenyak saat ada seseorang yang bilang padaku, 

"Besok, saat dunia sudah makin gila, dan orang dari berbagai belahan dunia bertemu, manusia yang bisa bertahan adalah manusia yang
punya budaya, yang mengerti budaya, yang berlandaskan budaya, yang memegang idealisme budaya. Orang itulah yang akan dicari, yang diburu, dan dibayar mahal. Karena semakin masa bodohnya manusia dengan budayanya sendiri. Kalau bukan kita yang peduli, lalu siapa?"

No comments: