Dalam harap aku berdoa
Meminta ibu untuk bersabar
Untuk melihat nanti yang aku dapat
Setelah lama aku mencarinya
Doanya bersama
Tangisnya mengisi jiwa
Harapan tertancap
Dalam jiwa yang terus berharap
Mintalah pada Tuhan
Agar aku bisa mewujudkan harapan
Berjalan pada satu tujuan
Dan semua bisa jadi kenyataan
Thursday, September 18, 2008
Detik terakhir...
(yang lain gak bisa diganggu!!)
Walaupun baru 3 bulan bekerja, tapi rasanya udah kayak lama banget! Kalau mau diukur dari rasa nyaman, kerja disana jelas udah nyaman banget! Absolutely damn sure! Tanggung jawab, tekanan, kebersamaan, dan kerjasama, aku rasakan semua di sana. Well, emang gak segitu perfectnya, tapi at least kerja di detik.com Jogja itu memang menyenangkan!
Lalu pilihan itu datang. Harus aku apakan ya? Yang pasti harus aku pilih. Dan itu sangat sulit. Banyak pertimbangkan, dan banyak yang harus disiapkan!
Yeaah..aku bilang aku nekat. Karena dengan semuanya yang serba apa adanya akupun berangkat untuk belajar ilmu yang lain. Ilmu yang pingin aku tekuni, dan aku jadikan profesi. Muluk ga sih, kalo punya cita-cita besar jadi copywriter? Hehehe....
Jadi aku putuskan untuk mencoba, mengerjakan hal yang aku suka, agar jadi lebih baik. Lagi, lagi, dan lagi!!Semoga kesempatan ini baik, jadi bisa aku manfaatkan dengan baik juga!
Tapi yang pasti, gak mungkin lah, aku bisa lupa sama tempat aku belajar bekerja di Jogja. Ya orang-orangnya, pekerjaannya (hehehe), suasananya, pokoknya semuuuaaanyaa! Dan di hari terakhirku, 9 September kemarin, aku wajib bikin email perpisahan buat semuanya. Haiyaaaa,susaah sekaliii!!
Dan waktu pamitan, untungnya gak pake acara nangis-nangis segala. Padahal sedih banget! Dan tibalah saatnya, detik terakhir, di hari terakhir.
Goodbye..so long!! Luv u...
Wednesday, September 17, 2008
pizza time...
Hari ini Ria, Rege, Rio, ama Vito ultah. Walaupun tanggalnya ga sama, tapi pizza time yang datang buat ngrayain bareng2 ama temen2 kantor, cukup menghibur..hehehe...2 slice sudah di perut!
Happy Birthday All....
Happy Birthday All....
Sunday, September 7, 2008
Identitas budaya kita
Tadi pagi aku lihat tayangan di tivi, tentang anak-anak daerah yang belajar kesenian. Mereka belajar tari dan gamelan. Seneng rasanya lihat masih ada anak-anak kecil jaman sekarang yang mau belajar kesenian seperti gitu. Melihat mereka, para generasi muda yang masih punya identitas budaya.
Anak-anak dari dengan basic budaya Jawa jadi tahu apa itu gamelan, bagaimana memainkannya, dan kesenian apa yang menggunakan alat musik tersebut. Anak muda di Sumatera tahu bahwa mereka kaya dengan budaya melayu. Dari kesenian sastra, tari atau adat istiadat. Tapi, sedih jika aku menyadari bahwa itu hanya sebagian kecil saja.
Kini,anak-anak sudah seperti kehilangan identitas budayanya. Kehilangan akarnya. Mereka kini adalah manusia-manusia tanpa sejarah, tanpa budaya. Yang mereka tahu hanya Indonesia, Merah Putih, Pancasila atau siapa presiden RI sekarang. Kita pun tidak bisa bilang mereka nasionalis, cinta negeri sendiri, karena itu semua mereka tahu untuk dapatkan nilai baik di sekolah.
Agar tidak dibilang keterlaluan saat mereka tidak tahu apa lagu kebangsaan Indonesia. Mereka hanya berasal dari Sunda, Jogja, Pontianak, Riau, Lampung, Jakarta, tanpa tahu apa yang ada di tanah kelahiran mereka. Karena mereka lahir di Jogja, besar di Lampung, dan belajar di Jakarta. Atau karena budaya mereka kini sudah digantikan oleh teknologi. Internet, laptop, iPod,Nintendo DS, XBox adalah bendera, budaya, dan identitas mereka. Bahwa lagu Umbrella-nya Rihanna adalah lagu yang ngetop daripada Cublak-cublak Suweng, dan Oh Baby-nya Cinta Laura itu lebih lucu daripada lagu Ondel-ondel.
Siapa yang harus dipersalahkan? Anak-anak, pemerintah, atau kita sekarang yang lagi nggosipin mereka? Yang pasti sekarang pemerintah lagi sibuk ngurusin padi Troy yang gagal panen, dan Agus Chondro yang terima suap, atau DPR yang lagi mau sosialisasi Pemilu ke luar negeri. Mungkin aku terlalu negatif ya, tapi apa pernah melihat, mendengar, atau sekedar gosip bahwa pemerintah sedang berkonsentrasi membangunkan kembali budaya daerah yang lama tidur. Bahwa pemerintah sedang menyusun promosi wisata daerah yang diikuti dengan peningkatan kualitas dan pendanaan yang cukup, dan pembangunan sumber daya yang baik. Bahwa pemerintah mengadakan kampanye yang terpadu, solid, dan menarik, untuk kembali mencintai budaya lokal, budaya Indonesia yang jumlahnya ribuan. Mungkin mereka terlalu sibuk kali ya, dengan berbagai urusan negara.
Aku jadi khawatir, bahkan dengan diriku sendiri. Budaya apa yang aku punya, yang aku pahami, yang aku cintai. Budaya Indonesia? Ya apa? Sadarilah, bahwa kita itu heterogen, tidak homogen. Bahwa kita berwarna tidak monochrome. Bahwa kita itu polyphonic bukan monophonic.
Jadi budaya apa? Aku sangat terhenyak saat ada seseorang yang bilang padaku,
"Besok, saat dunia sudah makin gila, dan orang dari berbagai belahan dunia bertemu, manusia yang bisa bertahan adalah manusia yang
punya budaya, yang mengerti budaya, yang berlandaskan budaya, yang memegang idealisme budaya. Orang itulah yang akan dicari, yang diburu, dan dibayar mahal. Karena semakin masa bodohnya manusia dengan budayanya sendiri. Kalau bukan kita yang peduli, lalu siapa?"
Anak-anak dari dengan basic budaya Jawa jadi tahu apa itu gamelan, bagaimana memainkannya, dan kesenian apa yang menggunakan alat musik tersebut. Anak muda di Sumatera tahu bahwa mereka kaya dengan budaya melayu. Dari kesenian sastra, tari atau adat istiadat. Tapi, sedih jika aku menyadari bahwa itu hanya sebagian kecil saja.
Kini,anak-anak sudah seperti kehilangan identitas budayanya. Kehilangan akarnya. Mereka kini adalah manusia-manusia tanpa sejarah, tanpa budaya. Yang mereka tahu hanya Indonesia, Merah Putih, Pancasila atau siapa presiden RI sekarang. Kita pun tidak bisa bilang mereka nasionalis, cinta negeri sendiri, karena itu semua mereka tahu untuk dapatkan nilai baik di sekolah.
Agar tidak dibilang keterlaluan saat mereka tidak tahu apa lagu kebangsaan Indonesia. Mereka hanya berasal dari Sunda, Jogja, Pontianak, Riau, Lampung, Jakarta, tanpa tahu apa yang ada di tanah kelahiran mereka. Karena mereka lahir di Jogja, besar di Lampung, dan belajar di Jakarta. Atau karena budaya mereka kini sudah digantikan oleh teknologi. Internet, laptop, iPod,Nintendo DS, XBox adalah bendera, budaya, dan identitas mereka. Bahwa lagu Umbrella-nya Rihanna adalah lagu yang ngetop daripada Cublak-cublak Suweng, dan Oh Baby-nya Cinta Laura itu lebih lucu daripada lagu Ondel-ondel.
Siapa yang harus dipersalahkan? Anak-anak, pemerintah, atau kita sekarang yang lagi nggosipin mereka? Yang pasti sekarang pemerintah lagi sibuk ngurusin padi Troy yang gagal panen, dan Agus Chondro yang terima suap, atau DPR yang lagi mau sosialisasi Pemilu ke luar negeri. Mungkin aku terlalu negatif ya, tapi apa pernah melihat, mendengar, atau sekedar gosip bahwa pemerintah sedang berkonsentrasi membangunkan kembali budaya daerah yang lama tidur. Bahwa pemerintah sedang menyusun promosi wisata daerah yang diikuti dengan peningkatan kualitas dan pendanaan yang cukup, dan pembangunan sumber daya yang baik. Bahwa pemerintah mengadakan kampanye yang terpadu, solid, dan menarik, untuk kembali mencintai budaya lokal, budaya Indonesia yang jumlahnya ribuan. Mungkin mereka terlalu sibuk kali ya, dengan berbagai urusan negara.
Aku jadi khawatir, bahkan dengan diriku sendiri. Budaya apa yang aku punya, yang aku pahami, yang aku cintai. Budaya Indonesia? Ya apa? Sadarilah, bahwa kita itu heterogen, tidak homogen. Bahwa kita berwarna tidak monochrome. Bahwa kita itu polyphonic bukan monophonic.
Jadi budaya apa? Aku sangat terhenyak saat ada seseorang yang bilang padaku,
"Besok, saat dunia sudah makin gila, dan orang dari berbagai belahan dunia bertemu, manusia yang bisa bertahan adalah manusia yang
punya budaya, yang mengerti budaya, yang berlandaskan budaya, yang memegang idealisme budaya. Orang itulah yang akan dicari, yang diburu, dan dibayar mahal. Karena semakin masa bodohnya manusia dengan budayanya sendiri. Kalau bukan kita yang peduli, lalu siapa?"
my influence
Ada api pasti ada asap...iya tho?
Nah, terus apa hubungannya? Saya akan memulainya dengan sebuah pertanyaan. Tau ga, sejarah saya bercita-cita untuk jadi seorang copywriter? Ini karena ulah seorang blogger yang membuat saya lebih jatuh cinta menulis dari sebelumnya.
Pas semester awal saya kuliah, klo ga salah semester 1 tahun 2004. Saya dapat tugas untuk mencari definisi warna. Apa artinya dan apa maknanya. Oke, berangkatlah saya mencari artinya di internet, kebetulan warnetnya ada di deket kampus. Waktu browsing, saya menemukan banyak reference. Kayak dari wikipedia, situs luar, dll. Dan saya menemukan beberapa makna warna dari sebuah blog pribadi. Pertama saya cuma baca halaman tentang warna itu aja, tapi lama-lama interest juga buat baca yang lain. Dan saya baca deh halaman lain. Dan kamu tau, saya gak bisa berhenti baca. Dan itu juga
awal saya suka baca blog orang, karena biasanya cuma sambil lalu, kalo g penting-penting banget ya gak dibaca. Tapi ini, semakin dibaca kok semakin ingin tau. Welw...akhirnya saya copy satu halaman web page-nya. Dan saya baca lagi di rumah.
And u know what, dia adalah seorang copywriter, di something advertising agency di Jakarta. Bukan bermaksud psycho atau apa, tapi dari sinilah aku mulai interest dengan dunia iklan. Ga tau apanya, saya juga bingung. Yang pasti saya sangat kagum sama pemilik blog ini. Akhirnya, ini juga yang buat saya milih konsentrasi advertising daripada jurnalistik. Padahal cita-cita saya sebelumnya pingin jadi wartawan, editor, kolumnis, penulis artikel handal (hehehe) atau apalah itu. Yang saya tau,
saya suka nulis dan yang saya tau ya jurnalistik.
Sampai sekarang saya masih suka banget baca blognya. Pemikirannya, ide-idenya, semuanya. Selain saya juga suka baca blog lain, LeonHakim, GlennMarsalim, IncoHarper, Alia, DamiSidharta, buaaaaannnyaaakkk....alot of!!!
Sampe sekarang saya belum bisa ketemu sama pemilik blog tersebut (yang jadi influence saya). Padahal dari tahun 2006 saya udah pernah ketemu di Pinasthika. Dan kemarin ketemu lagi di Pinasthika 2008. Temen saya bilang "Udah samperin aja, " Tapi saya gak berani. Wuaah..saya takut keliatan bloon di depannya. Ntar dia tau deh kalo saya neh g pinter-pinter amat, ga canggih, ga sistematis, ga kreatif, knowledgementsless (hehe)....pokoknya ga berani.
Dia influence saya, thats all!
Nah, terus apa hubungannya? Saya akan memulainya dengan sebuah pertanyaan. Tau ga, sejarah saya bercita-cita untuk jadi seorang copywriter? Ini karena ulah seorang blogger yang membuat saya lebih jatuh cinta menulis dari sebelumnya.
Pas semester awal saya kuliah, klo ga salah semester 1 tahun 2004. Saya dapat tugas untuk mencari definisi warna. Apa artinya dan apa maknanya. Oke, berangkatlah saya mencari artinya di internet, kebetulan warnetnya ada di deket kampus. Waktu browsing, saya menemukan banyak reference. Kayak dari wikipedia, situs luar, dll. Dan saya menemukan beberapa makna warna dari sebuah blog pribadi. Pertama saya cuma baca halaman tentang warna itu aja, tapi lama-lama interest juga buat baca yang lain. Dan saya baca deh halaman lain. Dan kamu tau, saya gak bisa berhenti baca. Dan itu juga
awal saya suka baca blog orang, karena biasanya cuma sambil lalu, kalo g penting-penting banget ya gak dibaca. Tapi ini, semakin dibaca kok semakin ingin tau. Welw...akhirnya saya copy satu halaman web page-nya. Dan saya baca lagi di rumah.
And u know what, dia adalah seorang copywriter, di something advertising agency di Jakarta. Bukan bermaksud psycho atau apa, tapi dari sinilah aku mulai interest dengan dunia iklan. Ga tau apanya, saya juga bingung. Yang pasti saya sangat kagum sama pemilik blog ini. Akhirnya, ini juga yang buat saya milih konsentrasi advertising daripada jurnalistik. Padahal cita-cita saya sebelumnya pingin jadi wartawan, editor, kolumnis, penulis artikel handal (hehehe) atau apalah itu. Yang saya tau,
saya suka nulis dan yang saya tau ya jurnalistik.
Sampai sekarang saya masih suka banget baca blognya. Pemikirannya, ide-idenya, semuanya. Selain saya juga suka baca blog lain, LeonHakim, GlennMarsalim, IncoHarper, Alia, DamiSidharta, buaaaaannnyaaakkk....alot of!!!
Sampe sekarang saya belum bisa ketemu sama pemilik blog tersebut (yang jadi influence saya). Padahal dari tahun 2006 saya udah pernah ketemu di Pinasthika. Dan kemarin ketemu lagi di Pinasthika 2008. Temen saya bilang "Udah samperin aja, " Tapi saya gak berani. Wuaah..saya takut keliatan bloon di depannya. Ntar dia tau deh kalo saya neh g pinter-pinter amat, ga canggih, ga sistematis, ga kreatif, knowledgementsless (hehe)....pokoknya ga berani.
Dia influence saya, thats all!
Saturday, September 6, 2008
tweeting
berdetak, berdegup kencang
terbata, tertahan, tak jelas
terngiang, tak bisa lupa
tersentuh, didekap lama
berbisik, berkata cinta....
------------
ada dua hal dalam hidup
pertama, terjatuh lalu bangkit
kedua, terbang lalu terjatuh
mana yang Anda pilih?
-----------
Kalau memang kita bisa hidup sendiri
Lalu apa yang akan kita lakukan pada teman-teman kita?
Kalau kita memang selalu butuh teman dalam hidup
Kapan kita punya waktu untuk sendiri?
terbata, tertahan, tak jelas
terngiang, tak bisa lupa
tersentuh, didekap lama
berbisik, berkata cinta....
------------
ada dua hal dalam hidup
pertama, terjatuh lalu bangkit
kedua, terbang lalu terjatuh
mana yang Anda pilih?
-----------
Kalau memang kita bisa hidup sendiri
Lalu apa yang akan kita lakukan pada teman-teman kita?
Kalau kita memang selalu butuh teman dalam hidup
Kapan kita punya waktu untuk sendiri?
05 09 08
Lampu yang padam
Kamar yang gelap
Hati yang berdebar
Menunggu saatnya terang
Hanya ada desah nafas
Yang diburu waktu
Hanya ada detak jantung
Yang diburu rindu
Tak ada lain yang terlintas
Selain berpegang erat tak terlepas
Tak ada lain yang terlintas
Selain menjaga hati yang telah diwarna
Ada satuan yang genap
Ada ribuan kata yang tak terhitung
Berapa lama waktu harus dihabiskan
Hanya untuk mengumpulkan rasa
Aku tidak terjebak
Meski takut dan bingung
Bagaimana denganmu?
Kamar yang gelap
Hati yang berdebar
Menunggu saatnya terang
Hanya ada desah nafas
Yang diburu waktu
Hanya ada detak jantung
Yang diburu rindu
Tak ada lain yang terlintas
Selain berpegang erat tak terlepas
Tak ada lain yang terlintas
Selain menjaga hati yang telah diwarna
Ada satuan yang genap
Ada ribuan kata yang tak terhitung
Berapa lama waktu harus dihabiskan
Hanya untuk mengumpulkan rasa
Aku tidak terjebak
Meski takut dan bingung
Bagaimana denganmu?
Subscribe to:
Posts (Atom)
